Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Kisah Puteri Naga (4)

Setahun setelah pertemuan dengan sang naga akhirnya lahirlah anak pertama sang raja. Cerita raja bertemu dengan seekor naga, entah bagaimana telah menyebar di tengah rakyat kerajaan selama jangka waktu setahun tersebut. Dan karena itu anak sang raja dipanggil dengan panggilan Puteri Naga. Sang ratu sangat menyayangi puterinya tapi sang raja tidak dapat menyayanginya dengan sepenuh hati karena selalu teringat akan peringatan dari sang naga. Namun, sang raja selalu berusaha mengenyampingkan pikiran buruknya dan selalu berusaha sekuat tenaga memberikan kasih sayang seorang ayah kepada puterinya.
Sang puteri tumbuh menjadi anak yang cantik, cerdas, dan baik perangainya sehingga semakin disayangi oleh rakyat dan sang ratu. Tapi berbeda dengan sang raja yang semakin gelisah tiap harinya, khawatir kejadian buruk apa yang akan menimpa diri, keluarga, dan rakyatnya. Selain itu, sang raja tidak pernah memandang mata puterinya karena walaupun mata puterinya berwarna hitam legam tapi matanya memiliki kekuatan yang mirip dengan sang naga, mata yang selalu menilai dan melihat tepat ke dalam hati dan pikirannya. Walaupun begitu dalam hatinya yang terdalam sang raja sadar bahwa ia tetap menyayangi puterinya itu.


-tsuzuku-to be continued-bersambung-


comment is welcome :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Puteri Naga (3)

Ini dia lanjutan cerita 'kisah puteri naga' pake ai3 hari terakhir hahahah
enjoy :D
Tiga hari kemudian sang raja kembali ke air terjun tempat sang naga bersemayam.
“Apa kau sudah menentukan pilihanmu?”
“Aku akan menyerahkan anakku”
“Hmm pilihan yang bijaksana…”
“Tapi dengan satu syarat” potong sang raja cepat.
“Syarat?! Berani-beraninya kau manusia kecil mengajukan syarat padaku!!!” suara sang naga terasa menusuk kepala sang raja. Matanya yang kuning tampak dingin dan berbahaya.
“Mohon dengarkanlah alasanku”
“Sebaiknya itu alasan yang bagus manusia” kata sang naga sambil mendengus, asap hitam mengepul dari cuping hidungnya.
Sang raja menelan ludah, dia sudah siap menerima apa pun konsekuensi yang akan diterimanya.
“Aku, secara pribadi, bisa saja dengan rela menyerahkan langsung anakku setelah dia lahir, wahai naga. Tapi istriku adalah wanita yang sangat lembut hatinya, menyerahkan anak kami langsung padamu sama saja dengan membunuhnya”
“Manusia! Aku sama sekali tidak peduli dengan perasaanmu ataupun istrimu”
“Kami akan menyerahkannya padamu tapi kumohon berilah kami sedikit penangguhan”
“Semakin lama kau tunda bayaranmu semakin kau akan merasa sayang dan tidak akan mau melepaskannya…”
“Walaupun sebentar kami ingin melihatnya tumbuh dewasa. Setelah itu pasti akan kami berikan”
“Apa kau tidak akan menyesali keputusanmu ini?” tanya sang naga.
Sang raja menggelengkan kepalanya “Tidak! Karena setiap manusia pasti ingin melihat anaknya tumbuh dewasa”
Sang naga terdiam beberapa saat kemudian menjawab “Baiklah akan kukabulkan permohonanmu”
“Terima kasih wahai naga yang bijaksana!” ujar sang raja gembira.
“Akan kuambil anakmu pada hari ulang tahunnya yang ke-17. Bila tidak kau dan rakyatmu yang akan merasakan akibatnya. Paham?!”
Sang raja hanya menganggukan kepala. Sang naga pun membalikan badannya untuk masuk ke dalam air terjun.
“Manusia, ini adalah peringatan dariku. Anakmu yang pertama hanya akan mendatangkan  malapetaka bagi kerajaanmu.”
Dengan perkataan itu sang naga pun menghilang ke balik air terjun dan menyisakan pertanyaan besar di kepala sang raja.


-tsuzuku-to be continued-bersambung-


comment is welcome :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Puteri Naga (2)

Berhubung sedang di comlabs, ngepost dulu ah.. Heheheh

Setelah 3 bulan mencari akhirnya raja menemukan penjaga Sungai Besar.
“Apakah benar kau adalah penjaga Sungai Besar?” tanya raja.
“Benar Paduka. Marilah ikut dengan saya, tuan saya hendak berbincang dengan Tuan mengenai permohonan Tuan”
“Bagaimana kau bisa tahu maksud kedatanganku?” sang raja keheranan
“Yang mulia, kabar berita selalu mencapai tempat ini dengan caranya sendiri. Mari ikut dengan saya dan mohon Anda tidak membawa serta pengawal Anda” kata sang Penjaga Sungai.
“Baiklah. Kalian tunggulah disini!” perintah sang raja.
“Tapi yang mulia..” kepala pengawal hendak membantah.
“Tidak ada tapi-tapian! Aku percaya pada orang ini!” potong sang raja.
“Siap yang mulia!”
Sang raja pun mengikuti Penjaga Sungai Besar. Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah air terjun yang berarus sangat deras.
“Tuanku! Sang raja telah datang” teriak Penjaga Sungai kea rah air terjun.
Tiba-tiba tanah bergetar dan terdengar suara gemuruh yang sangat keras. Raja pun menunggu dengan was – was. Tidak lama setelah kemudian, tanah berhenti bergetar dan suasana di sekitar air terjun terasa sangat hening, bahkan suara gemuruh air terjun pun tidak terdengar.
Seperti terhipnotis mata pandangan sang raja tertuju kearah air terjun. Lama – kelamaan dari balik air terjun, muncullah sesuatu seperti mata kuning yang sangat besar. Semakin lama mata tersebut semakin besar dan semakin jelas pula  bentuknya. Diikuti dengan muncunya kepala yang sangat besar, kepala makhluk yang hanya ada dalam legenda dan dongeng – dongeng saja, yaitu kepala sang naga.
Kepala sang naga sangat besar dan ditutupi oleh sisik hijau tua yang berkilauan, giginya seputih mutiara dan setajam pedang yang paling tajam. Sepasang mata besarnya yang berwarna kuning bersinar seperti dua buah lentera besar yang penuh dengan energi kehidupan.
Mata raja terus menatap mata sang naga. Sekeras apa pun usaha sang raja melepaskan pandangan dari mata sang naga, usahanya selalu gagal. Sang raja merasa, mata itu seperti sedanng menilai dirinya, membaca pikirannya, dan menelanjangi hatinya. Seketika sang raja merasa sangat kecil dan tidak berdaya. Tidak  pernah dalam hidupnya dia menatap sesuatu seperti mata sang naga. Seolah – olah mata tersebut menarik dirinya dan tidak akan pernah melepaskannya. Mata yang membuat sang raja terpesona sekaligus ketakutan karena memancarkan kehangatan serta kebijaksanaan tapi dibaliknya terdapat pandangan dingin dan kejam serta tidak ragu memusnahkan segala gangguan yang ada dihadapannya.
Beberapa menit kemudian yang terasa berjam-jam bagi sang raja, akhirnya sang naga pun melepaskan pandangannya. Segera saja tubuh sang raja terasa sangat lemas, dia hampir saja terjatuh bila tidak bertumpu pada pedangnya.
“Wahai raja beritahukanlah apa keinginanmu padaku!” terdengar suara yang dalam dan bergemuruh di dalam kepala sang raja.
“Wahai naga yang agung keinginanku hanya satu. Aku ingin mempunyai anak”
“Aku bisa mengabulkan permohonanmu tapi bayaran untuk itu tidak sedikit”
“Berapa banyak pun emas yang kau inginkan akan kuberikan”
Lalu terdengar suara bergemuruh seperti suara guruh saat akan datang hujan yang sangat lebat. Ternyata suara tersebut adalah suara tawa sang naga. Setelah suara gemuruh tadi mereda, sang naga mulai berbicara lagi.
“Selama berabad – abad hidupku kenapa kalian, bangsa manusia, selalu saja menawariku emas?! Apakah emas adalah hal yang paling berharga bagi kalian? Tapi sayangnya aku tidak menginginkan emas, permata ataupun kekayaan”
“Kalau begitu apa yang Anda inginkan? Apa pun itu akan aku berikan”
“Aku menginginkan hal yang paling berharga milikmu”
“Apakah itu wahai naga yang agung?”
“Aku menginginkan anakmu yang pertama”
Mata sang raja terbelalak mendengar syarat sang naga. Untuk sesaat sang raja melupakan rasa takutnya pada naga besar yang ada dihadapnnya. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia merasa terhina seperti sekarang ini.
“Apa?! Mana mungkin aku akan menyerahkan anakku padamu!” sang raja sungguh murka, wajahnya memerah dan napasnya memburu.
Disisi lain sikap sang naga tampak sangat tenang, sisi – sisi mulutnya berkedut seperti sedang menahan tawa.
“Bukankan tadi kau mengatakan akan member apa pun yang kuminta?” Tanya sang naga dengan tenang.
“tapi kenapa? Kenapa harus anakku? Kenapa tidak meminta yang lain??”
“Kalau begitu apa kau akan menyerahkan seluruh rakyatmu sebagai pengganti ankmu?” Tanya sang naga tajam.
“……..” sang raja tidak dapat berkata apu pun.
“Tentukanlah pilihanmu dengan bijak, hai manusia”
“… Bolehkan aku meminta waktu satu minggu? Aku harus mendiskusikan masalah ini dengan istriku”
“3 hari, itulah waktu yang kau punya. Lebih dari itu apa pun bayarannya tidak akan dapat mengabulkan permohonanmu.


-tsuzuku-to be continued-bersambung-


comment is welcome :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Puteri Naga (1)

Ini cerita yang udah lamaaaa banget ditulis. Mumpung lagi nganggur sekalian aja ngepost ini ahaha.. Please enjoy this story..



Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja yang bijaksana. Sang raja ditemani seorang ratu yang cantik jelita dan lemah lembut. Mereka berdua memerintah kerajaan dengan adil, dan rakyat pun sejahtera.
Walaupun hidup tentram dan dicintai oleh rakyat, tapi kebahagiaan keduanya terasa belum lengkap karena mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Pada suatu hari, datanglah seorang petani menghadap raja.
“Wahai petani ada apa gerangan engkau datang kemari?” tanya sang raja.
“Hamba membawa berita gembira untuk Anda yang mulia raja. Hamba mengetahui seorang petapa yang dapat membantu paduka mendapatkan keturunan”
“Benarkah?” tanya sang raja terkejut.
“Benar yang mulia. Petapa ini sudah sangat renta tapi beliau terkenal dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya yang luas.”
“Bawalah aku pada petapa itu.”
“Baik yang mulia.”
Keesokan harinya mereka pun berangkat. Setelah satu minggu perjalanan sampailah mereka di suatu desa yang terpencil.
“Dimanakah petapa yang bijaksana itu tinggal?” tanya sang raja
“Paduka, harap Anda beristirahat terlebih dahulu. Besok saya akan mengantar Anda kepada sang petapa,” kata kepala desa.
Sang raja pun menuruti nasihat kepala desa. Dan keesokan harinya ia diantar ke sebuah gua.
“Disinilah sang petapa tinggal, paduka.”
Sang raja pun masuk ke dalam gua. Alangkah terkejutnya ia karena yang dia lihat adalah seorang kakek dengan rambut dan janggut yang seputih salju. Janggutnya luar biasa panjang hingga dapat menyentuh lantai. Tidak hanyaitu sang raja pun terkesiap ketika sang petapa membuka matanya, mata sang petapa telah memutih yang menunjukkan bahwa ia buta.
“Wahai raja yang bijaksana, hal apa yang membawa Anda kemari, jauh dari istana Anda yang megah?”
“Kenapa Anda bisa tahu bahwa aku adalah seorang raja?” tanya sang raja terkejut.
“Itu adalah hal yang mudah wahai raja… tidak ada seorang pun di desa ini yang datang ketempatku dengan banyak pengiring hingga suaranya bahkan terdengar dari kejauhan. Dan tidak ada seorang pun di desa ini yang menggunakan wewangian seperti Anda wahai raja yang baik,” jelas sang petapa.
Mendengar penjelasan tersebut, sang Raja pun terpesona oleh kebijaksanaan sang petapa. “perkataan Anda sangat tepat… bahkan mungkin Anda sudah mengetahui pertanyaan yang akan kuajukan?”
“Mohon yang mulia jangan terlalu memuji, karena selama hidup saya yang panjang, saya telah melihat banyak hal. Jadi, mengetahui hal seperti itu adalah hal yang wajar. Dan dengan segala kerendahan hati, saya memang memiliki beberapa perkiraan tentang apa yang akan Anda tanyakan.”
“Apakah perkiraan Anda itu hai petapa yang bijaksana?” sang raja bertanya, dia ingin mengetahui apakah sang petapa bias menebak keinginannya.
“Anda, yang mulia, adalah raja besar, mempunyai nama harum bahkan di kalangan rakyat jelata. Nama anda dinyanyikan di setiap lagu kepahlawanan negeri ini. Anda yang memiliki kebesaran dan kekayaan, apa yang akan Anda minta? Jawabannya hanya ada satu yaitu Anda ingin memiliki keturunan untuk mewarisi kerajaan Anda. Apakah tebakan saya salah?”
Sang raja terdiam sesaat, kaget karena ternyata sang petapa dapat menebak keinginannya dengan sangat tepat.
“Ah.. ya ya Anda benar. Benar sekali wahai petapa yang bijaksana. Jadi apa yang harus kulakukan agar dapat memiliki keturunan?”
“Ada satu cara tapi bayarannya tidak sedikit”
“Akan kuberikan apa pun yang kau inginkan kalau itu bias mengabulkan keinginanku”
“yang mulia, Anda tidak perlu membayar atau memberi sesuatu apa pun pada saya, karena bukan saya yang akan mengabulkan permintaan Anda”
“Kalau begitu siapa yang sanggup mengabulkan keinginanku?”
“Pergilah ke Sungai Besar dan temui penjaga disana. Dia tahu apa yang harus dilakukan”


-tsuzuku-to be continued-bersambung-


comment is welcomed :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS